Baru aja selesai membaca sebuha novel karya anak bangsa, terus tertarik buat bikin resensinya.
Resensi
Novel Teenlit: Ken Terate - 57 detik
Sekelumit kisah manis dari gempa di yogya.
Judul:
57 detik
Pengarang:
Ken Terate
Penerbit:
PT. Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Genre:
Friendship, Teenage Romance
Tebal:
232 halaman
Rilis:
Juni 2009 (cetakan pertama)
Harga:
Rp30.000 (Harga Toko)
ISBN:
978-97-22-4632-2
Ken merupakan penulis
muda yang berhasil memenangkan beberapa lomba novel. Tulisan Ken masuk dalam
hitungan, karena dalam pertama kali membaca saya telah mengaggumi karyanya di novelnya
yaitu 57 detik. Yang paling saya suka dari gaya penulisan Ken adalah
kemampuannya membuat kalimat-kalimat hiperbola yang menggelitik dan
menggemaskan. Padahal ada yang bilang bahwa semua hal yang terlalu (hiper atau
hipo) itu tidak bagus. Tetapi “kalimat terlalu” buatan Ken justru menjadi daya
pikat tersendiri, bagi saya, dalam setiap bukunya. Hal lain yang saya suka dari
Ken adalah konsistensinya dalam menulis. Saya perhatikan dari sejak novel
pertamanya Ken selalu menggunakan kata ganti orang pertama (aku, gue) untuk
keseluruhan karakter utama dalam novel-novelnya. Hal ini jelas membutuhkan
ketelitian dan kecermatan tersendiri dalam menjaga agar tiap aktor yang
diciptakan tidak melenceng dari sifat rekaannya. Satu karakter tidak boleh
tertukar dengan karakter lain, atau jangan sampai antar-karakter saling
bertubrukan alias timpang satu dengan yang lainnya.
57 detik mungkin menjadi novel
pertama Ken yang lahir dari sebuah kisah nyata. Yah, itu cuman dugaan saya
belaka. Kebenarannya saya kurang tahu. Dalam pengantar novelnya, Ken secara
khusus mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang yang berjasa “memberinya”
beragam cerita yang membantunya membangun plot novel ini.
Teenlit dengan sampul yang
didominasi warna kuning cerah ini mengambil latar kejadian gempa yang melanda
Yogyakarta dan sekitarnya beberapa waktu silam. Judulnya sendiri mengacu pada
durasi gempa yang mengguncang kota gudeg tersebut. Di beberapa bagian Ken
secara kreatif memberikan tambahan-tambahan tulisan semisal tips menghadapi
gempa yang dikemas dalam bahasa komedi, serta beberapa headline dan foto asli
suatu peristiwa yang ada kaitannya dengan gempa. Interesting. Ceritanya sendiri
khas sekali untuk konsumsi usia anak sekolahan. Bumbu-bumbunya tak jauh dari
gonjang-ganjing persahabatan, persaingan merebut posisi strategis di sekolahan
(ketua cheerleader), dan lakon-lakon anak SMA masa kini, termasuk
cemburu-cemburuan dalam urusan percintaan.
Harusnya memang ada air mata
yang tumpah begitu membaca novel ini karena hampir separuh bagiannya diisi
kejadian tragis mengenai situasi saat dan setelah gempa. Setting lokasi
dan emosi para tokohnya pun coba dibangun oleh Ken untuk membangkitkan rasa
haru, paling tidak menurut saya begitu, namun sayang saya hanya larut sebentar
saja. Keharuannya kurang mampu membuat saya menitikkan air mata, padahal saya
terkenal paling mudah lumer pada hal-hal sedih dalam sebuah tulisan. Hmm,
entahlah, saya mengharapkan tragedi yang lebih sengsara lagi (tentu saja nggak
untuk kehidupan nyata).
Penulis berhasil menjaga
konsistensi tiga tokoh utamanya meski kesemuanya menggunakan kata ganti orang
pertama. Yang juga saya suka dari Ken adalah dia tidak melulu menjejali pembaca
dengan gula-gula cinta namun juga asem-manis-pahitnya sebuah persahabatan. Dan
itulah yang membedakannya dengan kebanyakan pengarang teenlit lainnya. Maju
terus Ken. Semoga tetap produktif.
Sekilas Sinopsis (cover belakang)
JOGJA,
KORAN REMAJA--Aji, Ayomi, dan Nisa adalah
remaja "biasa", kayak kita-kita gitu deh. Mereka mengaku kadang bosan
dengan hari-hari mereka. Sekali-sekali mereka pengin juga meng-alami kejadian
seru. Tapi tentu saja bukan seru yang menyengsarakan seperti GEMPA. Namun,
itulah yang terjadi! Gempa itu tiba-tiba datang dan mengacau-kan semuanya. Cuma
57 detik, tapi akibatnya begitu mengerikan. Petualangan luar biasa terpaksa
mereka jalani. Apa aja cerita mereka? Bagaimana mereka bertahan? Apa ada
kejadian lucu dalam tragedi ini? Berikut wawancara dengan mereka.
Tanya: Waktu gempa rasanya seperti apa?
Aji:
Seperti ditabrak buldoser.
Ayomi:
Seperti naik rollercoaster... tanpa sabuk pengaman.
Nisa:
(lirih) seperti sulap.
Tanya:
Apa yang membuat kamu paling sedih?
Aji:
Bencana itu rasanya nggak adil, sepertinya selalu menimpa orang yang sudah
susah.
Ayomi:
Aku nggak bisa menari lagi, padahal menari adalah hidupku.
Nisa:
(lirih juga) Sahabatku Aisyah... dia... (tidak berhasil melanjutkan)
Tanya:
Apa hikmah yang bisa kamu dapatkan?
Aji:
Akhirnya gue tau apa yang gue inginkan, setelah gue capek memenuhi harapan
orang lain.
Ayomi:
Dapet pacar baru.
Nisa:
Aku sadar aku sangat sayang pada keluargaku, meski mereka sama sekali nggak
keren.
Wow! Petualangan mereka bener-bener seru dan sangat menarik
untuk disimak. Misalnya, Nisa yang harus bertahan di puing-puing tanpa makanan
lebih dari sehari-semalam, lalu Aji yang jadi relawan dadakan, dan Ayomi yang
merasa dunianya hilang dalam sekejap gara-gara isu tsunami fiktif Oh iya, ada cerita-cerita lucu dan
romantisnya juga lho. Dapatkan kisah lengkap mereka di buku ini, sekarang juga!