Jumat, 18 Desember 2015

Kebudayaan part 2- Sortali (Ikat kepala khas batak)


karena, baru saja upload yang ulos, sekarang upload sortali (ikat kepala) dari suku batak.

Dalam adat batak ada mahkota yang menghiasi kepala yang disebut sortali.
sortali ini digunakan biasanya untuk pernikahan, tetapi juga dapat dipakai untuk acara lainnya sebagai pelestarian kebuadayaan.

Sortali yang terbuat dari tembaga sepu emas terbungkus kain merah yang diikat dikepala.

untuk pria sortali berbentuk segitiga dan untuk wanita berbentuk persegi panjang, yang keduanya sama-sama di lilitkan di kepala.
Dalam tata rias pengantin batak, selain menambah keanggunan performa pengantin, sortali juga  menunjukkan kekentalan adat budaya batak yang sakral dalam pernikahan, serta bermakna kebaikan bagi kedua mempelai dan seluruh keluarga.

Kebudayaan part 1- Ulos Batak (Sadum dan Ragihotang )


inilah acara yang tepat 1 tahun lalu diadakan keluarga ku..
lagi liat-liat gambar dapet inspirasi buat nulis blog.
apa sih makna dari ulos yang  dipakai ibu saya (ulos sadum) dan ayah saya (ulos Ragihotang)
berikut ini ulasannya :
Mangulosi adalah suatu kegiatan adat yang sangat penting bagi orang batak. Dalam setiap kegiatan seperti upacara pernikahan, kelahiran, dan dukacita ulos selalu menjadi bagian adat yang selalu di ikut sertakan.
Menurut pemikiran moyang orang batak, salah satu unsur yang memberikan kehidupan bagi tubuh manusia adalah “kehangatan”. Mengingat orang-orang batak dahulu memilih hidup di dataran yang tinggi sehingga memiliki temperatur yang dingin.
Demikian juga dengan huta/kampung yang ada di daerah tapanuli umumnya di kelilingi dengan pepohonan bambu. Dimana memiliki kegunaan bukan hanya sebagai pagar untuk menjaga serangan musuh saja, namun juga menahan terjangan angin yang dapat membuat tubuh menggigil kedinginan.
Ada 3 hal yang di yakini moyang orang batak yang memberi kehidupan bagi tubuh manusia, yaitu : Darah, Nafas dan Kehangatan. Sehingga “rasa hangat” menjadi suatu kebutuhan yang setiap saat di dambakan.
Ada 3 “sumber kehangatan” yang di yakini moyang orang batak yaitu : matahari, api dan ulos. Matahari terbit dan terbenam dengan sendirinya setiap saat. Api dapat di nyalakan setiap saat, namun tidak praktis untuk di gunakan menghangatkan tubuh, misalnya besarnya api harus di jaga setiap saat sehingga tidur pun terganggu. Namun tidak begitu halnya dengan Ulos yang sangat praktis digunakan di mana saja dan kapan saja.
Ulos pun menjadi barang yang penting dan di butuhkan semua orang kapan saja dan di mana saja. Hingga akhirnya karena ulos memiliki nilai yang tinggi di tengah-tengah masyarakat batak. Dibuatlah aturan penggunaan ulos yang di tuangkan dalam aturan adat, antara lain :
  • Ulos hanya di berikan kepada kerabat yang di bawah kita. Misalnya Natoras tu ianakhon (orang tua kepada anak).
  • Ulos yang di berikan haruslah sesuai dengan kerabat yang akan di beri ulos. Misalnya Ragihotang diberikan untuk ulos kepada hela (menantu laki-laki).
Sedangkan menurut penggunaanya antara lain :
  • Siabithonon (dipakai ke tubuh menjadi baju atau sarung) digunakan ulos ragidup, sibolang, runjat, jobit dan lainnya.
  • Sihadanghononhon (diletakan di bahu) di gunakan ulos Sirara, sumbat, bolean, mangiring dan lainnya.
  • Sitalitalihononhon (pengikat kepala) di gunakan ulos tumtuman, mangiring, padang rusa dan lain-lain.
Saat ini kita tidak membutuhkan ulos sebagai penghangat tubuh di saat tidur ataupun saat beraktifitas, karena ada berbagai alat dan bahan yang lebih maju untuk memberi kehangatan bagi tubuh pada saat berada pada udara yang sangat dingin. Tetapi Ulos sudah menjadi perlambang kehangatan yang sudah mengakar di dalam budaya batak.
Namun ini juga menjadi tantangan bagi budaya batak pada masa depan, karena cara pandang dan penghargaan anak-anak muda masa depan sangat berbeda dengan para orang tua yang sempat merasakan berharganya nilai ulos dalam kekerabatan. Akankah anak-anak kita memandang ulos seperti memandang “kain pada umumnya”, bahkan lebih parahnya setelah kain tersebut di gunakan dalam acara adat yang melelahkan kemudian ulos tersebut tersimpan rapat dalam lemari saja.
Sangat berbeda “rasanya” dengan dengan menggunakan setelan jas yang modis dan ingin menggunakannya lagi dan lagi begitu setiap saat.
Jangan-jangan yang terbayang dalam pikiran mereka saat melihat ulos yang tergolek dalam lemari adalah acara adat yang melelahkan, njelimet adatnya, pusing karena gak tau bahasa batak, malu karena gak pinter martutur (menempatkan diri dalam pertalian darah atau keturunan).
Akan sangat banyak tantangan masa depan yang akan menghimpit “niat maradat” bagi generasi muda masa depan. Seperti masalah ke uangan, penggunaan waktu, perkembangan pola pikir praktis, berkurangnya “rajaparhata” (orang yang mengetahui adat dan dapat memandu kegiatan adat dari awal hingga akhir).
RagihotangUlos Ragihotang merupakan Ulos yang mempunyai ragi (corak) rotan (hotang). Ulos ini biasanya diberikan kepada sepasang pengantin, sehingga disebut juga Ulos Marjabu. Tujuan pemberian Ulos ini adalah agar ikatan batin kedua pengantin seperti rotan. Pemberian Ulos ini kepada si pengantin dengan cara disampirkan dari sebelah kanan pengantin, ujungnya dipegang dengan tangan kanan laki-laki, dan ujung sebelah kiri oleh perempuan lalu disatukan di tengah dada seperti terikat.
Ulos ini juga digunakan untuk mangulosi seseorang yang dianggap picik, dengan harapan agar Tuhan memberikannya kebaikan sehingga orang tersebut rajin berkerja. Dalam upacara kematian, Ulos ini dipakai untuk membungkus jenazah, sedangkan dalam upacara penguburan kedua kalinya, digunakan untuk membungkus tulang-belulangnya. Oleh karenanya, Ulos ini mempunyai derajat yang cukup tinggi.
Ulos SadumUlos Sadum biasanya dipakai dalam acara-acara yang penuh keceriaan. Hal ini dikarenakan Ulos ini mempunyai ragam warna yang cerah. Begitu indahnya Ulos ini sehingga sering digunakan sebagai hiasan dinding atau diberikan sebagai kenang-kenangan, khususnya kepada pejabat yang berkunjung ke daerah Batak.Di Tapanuli Selatan, Ulos ini biasanya dipakai sebagai panjangki/parompa (gendongan) bagi keturunan Daulat Baginda atau Mangaraja. Selain itu, Ulos ini juga digunakan sebagai alas sirih di atas piring besar (pinggan godang burangir/harunduk panyurduan) untuk mengundang (marontang) raja-raja. 


Kamis, 17 Desember 2015

Sekelumit kisah manis dari musibah gempa yogya

Baru aja selesai membaca sebuha novel karya anak bangsa, terus tertarik buat bikin resensinya.

Resensi Novel Teenlit: Ken Terate - 57 detik
Sekelumit kisah manis dari gempa di yogya.

Judul: 57 detik
Pengarang: Ken Terate
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Genre: Friendship, Teenage Romance
Tebal: 232 halaman
Rilis: Juni 2009 (cetakan pertama)
Harga: Rp30.000 (Harga Toko)
ISBN: 978-97-22-4632-2


                    Ken merupakan penulis muda yang berhasil memenangkan beberapa lomba novel. Tulisan Ken masuk dalam hitungan, karena dalam pertama kali membaca saya telah mengaggumi karyanya di novelnya yaitu 57 detik. Yang paling saya suka dari gaya penulisan Ken adalah kemampuannya membuat kalimat-kalimat hiperbola yang menggelitik dan menggemaskan. Padahal ada yang bilang bahwa semua hal yang terlalu (hiper atau hipo) itu tidak bagus. Tetapi “kalimat terlalu” buatan Ken justru menjadi daya pikat tersendiri, bagi saya, dalam setiap bukunya. Hal lain yang saya suka dari Ken adalah konsistensinya dalam menulis. Saya perhatikan dari sejak novel pertamanya Ken selalu menggunakan kata ganti orang pertama (aku, gue) untuk keseluruhan karakter utama dalam novel-novelnya. Hal ini jelas membutuhkan ketelitian dan kecermatan tersendiri dalam menjaga agar tiap aktor yang diciptakan tidak melenceng dari sifat rekaannya. Satu karakter tidak boleh tertukar dengan karakter lain, atau jangan sampai antar-karakter saling bertubrukan alias timpang satu dengan yang lainnya.

            57 detik mungkin menjadi novel pertama Ken yang lahir dari sebuah kisah nyata. Yah, itu cuman dugaan saya belaka. Kebenarannya saya kurang tahu. Dalam pengantar novelnya, Ken secara khusus mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang yang berjasa “memberinya” beragam cerita yang membantunya membangun plot novel ini.

            Teenlit dengan sampul yang didominasi warna kuning cerah ini mengambil latar kejadian gempa yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya beberapa waktu silam. Judulnya sendiri mengacu pada durasi gempa yang mengguncang kota gudeg tersebut. Di beberapa bagian Ken secara kreatif memberikan tambahan-tambahan tulisan semisal tips menghadapi gempa yang dikemas dalam bahasa komedi, serta beberapa headline dan foto asli suatu peristiwa yang ada kaitannya dengan gempa. Interesting. Ceritanya sendiri khas sekali untuk konsumsi usia anak sekolahan. Bumbu-bumbunya tak jauh dari gonjang-ganjing persahabatan, persaingan merebut posisi strategis di sekolahan (ketua cheerleader), dan lakon-lakon anak SMA masa kini, termasuk cemburu-cemburuan dalam urusan percintaan.

            Harusnya memang ada air mata yang tumpah begitu membaca novel ini karena hampir separuh bagiannya diisi kejadian tragis mengenai situasi saat dan setelah gempa. Setting lokasi dan emosi para tokohnya pun coba dibangun oleh Ken untuk membangkitkan rasa haru, paling tidak menurut saya begitu, namun sayang saya hanya larut sebentar saja. Keharuannya kurang mampu membuat saya menitikkan air mata, padahal saya terkenal paling mudah lumer pada hal-hal sedih dalam sebuah tulisan. Hmm, entahlah, saya mengharapkan tragedi yang lebih sengsara lagi (tentu saja nggak untuk kehidupan nyata).

            Penulis berhasil menjaga konsistensi tiga tokoh utamanya meski kesemuanya menggunakan kata ganti orang pertama. Yang juga saya suka dari Ken adalah dia tidak melulu menjejali pembaca dengan gula-gula cinta namun juga asem-manis-pahitnya sebuah persahabatan. Dan itulah yang membedakannya dengan kebanyakan pengarang teenlit lainnya. Maju terus Ken. Semoga tetap produktif.

Sekilas Sinopsis (cover belakang)
JOGJA, KORAN REMAJA--Aji, Ayomi, dan Nisa adalah
remaja "biasa", kayak kita-kita gitu deh. Mereka mengaku kadang bosan dengan hari-hari mereka. Sekali-sekali mereka pengin juga meng-alami kejadian seru. Tapi tentu saja bukan seru yang menyengsarakan seperti GEMPA. Namun, itulah yang terjadi! Gempa itu tiba-tiba datang dan mengacau-kan semuanya. Cuma 57 detik, tapi akibatnya begitu mengerikan. Petualangan luar biasa terpaksa mereka jalani. Apa aja cerita mereka? Bagaimana mereka bertahan? Apa ada kejadian lucu dalam tragedi ini? Berikut wawancara dengan mereka.

Tanya: Waktu gempa rasanya seperti apa?
Aji: Seperti ditabrak buldoser.
Ayomi: Seperti naik rollercoaster... tanpa sabuk pengaman.
Nisa: (lirih) seperti sulap.
Tanya: Apa yang membuat kamu paling sedih?
Aji: Bencana itu rasanya nggak adil, sepertinya selalu menimpa orang yang sudah susah.
Ayomi: Aku nggak bisa menari lagi, padahal menari adalah hidupku.
Nisa: (lirih juga) Sahabatku Aisyah... dia... (tidak berhasil melanjutkan)
Tanya: Apa hikmah yang bisa kamu dapatkan?
Aji: Akhirnya gue tau apa yang gue inginkan, setelah gue capek memenuhi harapan orang lain.
Ayomi: Dapet pacar baru.
Nisa: Aku sadar aku sangat sayang pada keluargaku, meski mereka sama sekali nggak keren.


Wow! Petualangan mereka bener-bener seru dan sangat menarik untuk disimak. Misalnya, Nisa yang harus bertahan di puing-puing tanpa makanan lebih dari sehari-semalam, lalu Aji yang jadi relawan dadakan, dan Ayomi yang merasa dunianya hilang dalam sekejap gara-gara isu tsunami fiktif Oh iya, ada cerita-cerita lucu dan romantisnya juga lho. Dapatkan kisah lengkap mereka di buku ini, sekarang juga!

Rabu, 16 Desember 2015

Edisi Puisi - Sebelum Valetine karya Doddi Ahmad Fauji

Edisi kagum dengan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indoensia yang mengkaji puisi dengan detil. Ditambah nemu puisi dengan judul yang bikin jatuh hati.


Sebelum Valentine
Karya : Doddi Ahmad Fauji

Sayapku tanggal sehelai-sehelai
Kembali bertunas, tumbuh sebelah
Tatkala kau datang, tertegun
Sebagai Anggaraini
Yang asli

Kita berdua, mengukir niat
Berkejaran lokal

Langit dipenuhi bermilyaran bangau
Yang mencari pasangan dalam guyuran hujan
sebelum valentine dirayakan
kita berdua bangau berparuh biru toska
saling menarik dan mengulur


Bandung, 2015

Selasa, 15 Desember 2015

Sandal Kulit Raja

Seorang maharaj akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana kakinya terluka karena terantuk batu. Ia berfikir, “Ah, ternya jalan di negeriku sangat jelek sekali. Aku harus memperbaikinya”
Maharaja lalu memanggi seluruh menteri istana. Ia memutuskan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan kulit sapi yang terbaik. Segera saja pada menteri istana melakukan-melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri. Di tengah-tengah kesibukkan yang luar biasa itu, datanglah seorang pertapa menghadap maharaja.
Ia berkata kepada maharaja, “ Wahai paduka, mengapa padduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanya dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki paduka saja?”
Konon sejak saat itulah dduniamenemukan kulit pelapis telapak kaki yang kita sebut ‘sandal’.
Ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala, kita harus mengubah cara pandang kita, hati kita dan dirik kita sendiri dan bukan dengan jalan mengubah dunia.

Karena kita sering keliru dalam menafsirkan ddunia.
Dunia, dalam pikiran kita.
Kadang hanyalah suatu bentuk personal.
Dunia, kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri.
Tak ada orang lain yang terlibat disana,
Sebab sering kali dalam pandangan kita,

Dunia,  adalah bayang kita sendiri.

Senin, 14 Desember 2015

Burung Kecil Bertanya

Seekor burung kecil bertanya kepada kelompok burung, “mengapa terkadang burung suka berddebat kusir?”

Sembari agak bingung sang kepala kelompok menjawab, “ karena burung kadang juga butuh variasi. Kadang mereka butuh hiburan. Juga mereka buthut untuk mengungkapkan semua emosinya. Tapi, memang terkadang itu tidak pada tempatnya.”

Burung kecil itu masih belum puas, dia lalu bertanya, “ Lalu kenapa mereka sampai bisa melewati batas?”

Sang kepala kelompok burung mulai kebingungan. “Kenapa, ya ... Mungkin mereka tidak cukup berhati-hati dalam menjaga ucapan atau tulisan mereka. Mereka sekadar mengikuti emosi mereka belaka. Padahal, emosi juga bisa membuat seekor burung membunuh teman sesama burung. Karena itu, adik kecilku, kau perlu mengendalikan diri.”

Burung kecil itu masih bertanya, “Kenapa ada juga burung yang seenaknya saja menilai burung yang lain, bahkan terkadang menjelek-jelek burung itu?”

Dia berpikir sejenak, “Waduh, itu pertanyaan kelas berat!”. Lalu dia menjawab, “ intinya sama dengan yang tadai. Burun itu kurang bisa mengendalikan dirinya. Mungkin dia menganggap apa yang dia lakukan adalah sebuah proses pendewasaan yang di fasilitasi dengan keterbukaan yang memang dikehendaki oleh nuansa demokrasi, tetapi ketika itu dilakukan tidak dengan cara yang tepat, bisa menimbulkan sakit hati, merusak hubungan antarburung.”

Burung kecil itu bertanya lagi, “Kalau begitu apa yang dilakukan burung itu salah?”
Sang kepala menjawab, “Kalau itu kemudian menimbulkan konflik besar, maka jelas itu adalah sebuah kesalahan. Tapi, dalam kehidupan ini akan banyak riak-riak sperti itu. Karena satu burung tidak sepenuhnya mengerti seperti apa burung lain itu. Karena itu, terkadang interaksi antarburung bisa hanya menjadi hal yang luarbiasa hebatnya ketika menghasilkan sinergi antarburung. Tapi adikku, tidaak baik engkau menilai salah atau tidak. Hanya Tuhan yang paling tahu, mana yang benar dan mana yang salah. Tugas kita hanyalah menjalankan apa yang benar menurut hati nurani kita dengan memperhatikan masukan dari burung yang lain, serta kemudian berusaha memberi saran pada burung lain yang kita anggap berbuat melenceng. Tapi itu bukan erarti dia salah. Bisa jadi itu adalah pelajaran dari Tuhan agar burung itu lebih dewasa dalam menghadapi kehidupan ini.”
Si kecil berkata, “Oh begitu kak.”


Dia melanjutkan, “Ya, memang begitulah kehidupan ini. Semoga kau bisa selamat dalam mengarungi kehidupan ini karena banyak sekali burung yang tersesat ketika mencari jalan migrasi mereka, padahal seharusnya mereka bertanya pada hati nurani mereka.”

Kamis, 10 Desember 2015

The secret of life

The secret of life


Orang-orang yang hidup kelihatan bahagia dan penuh denga tawa, serta senyum canda tawa dan mempunyai langkah pasti dalam hidupnya, bukanlah selalu orang yang hidup berkelimpahan harta, melainkan orang-orang yang mampu menghadapi kegelapan, tantangan dan hambatan. Mereka meneranginya, mensiasatinya dan menang.