Minggu, 18 Oktober 2015

"Pentingnya Membangun Hubungan yang Baik antara Guru dengan Murid Pada Kegiatan Belajar Mengajar Matematika"



BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah
Matematika adalah salah satu pelajaran yang sulit dijabarkan hanya dengan tulisan, penjelasan satu arah saja. Tetapi, matematika adalah pelajaran yang memerlukan perhatuian khusus dalam penyampaiannya. Oleh karena itu, Guru sebagai tenaga pendidik haruslah memastikan penyampaian itu tepat sasaran dan benar maknanya.
Jika diabaikan maka siswa yang tidak mengerti akan hanya diam karena malu bertanya bahkan akan semakin tidak tertarik untuk belajar matematika. Dalam memecahkan masalah tersebut dibutuhkan interaksi atau hubungan yang baik antara guru dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Masalah tersebutlah yang menjadi latar belakang masalah ini.
I.2 Rumusan Masalah
1)      Apakah pengertian dari kegiatan Belajar Mengajar?
2)      Apakah Alasan Guru harus membangun hubungan antara siswa dalam mengajar matematika?
3)      Apakah manfaat dari hubungan yang terbangun antara guru dengan murid khususnya dalam mengajar matematika?
I.3 Tujuan
            Adapun tujuan dari makalah ini, antara lain :
1)      Untuk memberi pengetahuan tentang alasan guru harus membangun hubungan antara siswa dalam mengajar matematika
2)      Untuk memberi informasi manfaat dari membangun hubungan yang baik antara guru dengan siswa khususny dalam belajar matematika
3)      Untuk menambah wawasan tentang apa yang perlu dilakukan guru dalam mebangun hubungan yang baik antara guru dengan muridnya.
I.4 Metode
Metode dalam makalah ini menggunakan metode studi kepustakaan atau literatur dengan menggunakan beberapa buku. Selain menggunakan buku, penulis juga menggunakan artikel dan data-data yang bersumber dari internet yang dapat dipertanggungjawabkan kevaliditasannya yaitu berupa jurnal nasional maupun internasional.
I.5 Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bab, yaitu Bab pertama merupakan  pendahuluan yang meliputi, latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode dan sistematika penulisan
            Bab kedua merupakan isi dan pembahasan, yang menguraikan setiap teori tentang belajar mengajar dan pembahasan masalah yang berasal dari latar belakang masalah.
Bab ketiga merupakan penutup. Pada bagian ini akan menyampaikan kesimpulan dari setiap data yang diperoleh dan memberikan saran maupun solusi.
Selain itu, makalah ini juga dilengkapi dengan daftar pustaka dan lampiran yang berisikan jurnal-jurnal yang mendukung penulisan makalah ini.


BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN

II.1 Pengertian belajar dan Kegiatan Belajar Mengajar
            Di kalangan ahli psikologi terdapat keragaman dalam caara menjelaskan dan mendefinisikan makna belajar. Namun, secara ekspilisit maupun implisit pada akhirnya terdapat kesamaan maknanya, bahwa definisi manapaun konsep belajar itu selalu menunjukkan kepada suatu proses prubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu. (Hilgrad,1984:4 ;  Whiterington, 1952:163 ; Sartain, 1958:299 ; Grow and Crow, 1956:225 ; Sniker, 1928:199 ; Lidgren, 1960:94 ; Morgan, 1961:187 ; Di Vesta and Tompson, 1970:111 ; Gege and Berliner, 1975:86 ; and Lefrancois, 1975:356)
Adapun proses belajar mengajar itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu rangkaian interaksi antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuannya. Dari definisi tersebut bahwa terjadinya perilaku belajar pada murid dan mengajar pada guru tidak terjadi satu arah melainkan dua arah. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu interaksi atau hubungan yang memiliki peran bagi kedua belah pihak untuk berbuat secara aktif.
            Tujuan interaksi merupakan tercapainya suatu perubahan terhadap murid setelah menjalani proses belajar mengajar pada perilaku dan pribadinya seperti yang diharapkan gurunya atau sebaliknya terjadi  perubahan perilaku dan pribadi murid setelah diajarkan oleh gurunya.’



II.2 Alasan Guru harus membangun hubungan yang baik dengan murid
            Dhita Septika Anandadari (2013:212). “Matematika adalah salah satu pelajaran yang diwajibkan bagi siswa tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah. Tujuan pembelajaran matematika adalah untuk mempersiapkan siswa dalam menghadapi perubahan di kehidupan dan dunia yang terus berkembang, melalulu latihan bertindak aras dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efisien dan efektif (Puskur, dalam Usdiyana, D., Purniati, T., Yulianti, K., & Harningsih, E., 2009). “

            Dalam pencapaian tujuan matematika diatas pada proses belajar mengajar membutuhkan interaksi seperti yang telah diuraikan diatas. Namun, pada kenyataannya kita menemui banyak karakter dan daya tangkap anak akan pengetahuan khususnya matematika. Dengan kata lain, kita tidak boleh hanya membangun interaksi ataupun hubungan terhadap anak yang menurut kita mampu tetapi juga harus membangun hubungan yang baik dengan murid yang lainnya. Hal inilah yang menjadi alasan dasar pentingnya guru membangun hubungan dengan muridnya. Agar guru dapat mengetahui perkembangan belajar muridnya dan mampu mengembangkannya. Sehingga, tercapailah tujuan kegiatan belajar mengajar tersebut.
Metheny, J., dkk (2008) (Dhita Septika Anandari, 2013:213) menyatakan bahwa “guru menjadi sumber dukungan yang potensial bagi siswa karena mereka menghabiskan sebagian waktu mereka di sekolah.”. Sehingga kita sebagai guru yang lebih lama bersama murid dibanding orangtua murid di rumah sudah selayaknya guru membangun hubungan yang baik dengan murid.
Selain untuk mencapai tujuan belajar, interaksi ataupun hubungan yang baik dalam belajar matematika antara guru dengan murid harus dilakukan guna untuk menentukan apakah belajar di kelas merupakan suatu kebahagiaan atau penderitaan. Mengingat matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penjabarannya butuh waktu lama untuk dipahami khususnya murid.
Terakhir, alasan harus membangun hubungan yang baik antara guru dengan murid yaitu sesuai dengan kutipan dari Maria Poulou (2015:102) menyatakan “Students demonstrate emotional and behavioural difficulties when teacher-student relationships are characterized by teachers’ dissatisfied behaviour, and when they lack appropriate social skills or in other words exhibit inappropriate assertiveness. Students’ possession of social skills appeared to have a prominent role in the manifestation of emotional and behavioural difficulties, while teacher-students’ relationships have also an indirect effect to students’ behaviour, through the association with students’ social and emotional skills. Present study, in agreement with much past research, replicated the advantages of positive teacher-student relationships in preventing discipline problems (Fraser & Walberg, 2005).”
Teori itu secara garis besar mengatakan bahwa akan terjadi gangguan emosional dan tingkah laku pada siswa, jika hubungan antara guru dengan murid buruk. Hal ini di sebabkan oleh setiap tingkah buruk dalam hubungan antara guru dan murid secara tidak langsung memberi dampak pada murid itu sendiri. Tentu saja ini harus dihindari oleh guru. Karena tugas guru untuk mendidik karakter baik bukan membentuk karakter yang emosional dan tingkahlakunya saja sudah terganggu oleh hubungan antar guru dengan murid itu sendiri.

II.3 Cara Membangun Hubungan yang Baik antara Guru dengan Murid dalam Mengajar Matematika
            Adapun, sepuluh sikap yang baik dan disenangi anak didik untuk membangun hubungan yang baik dengan murid dalam mengajar matematika, antara lain :
è Suka menolong pekerjaan sekolah dan menerangkan pelajaran dengan jelas dan mendalam serta memberi contoh-contoh yang baik dalam mengajar.
è Periang, gembira dan memiliki rasa humor
 
è Bersikap bersahabat, merasa sebagai seorang anggota dalam kelompok kelas
è Menaruh perhatian dan memahami anak didiknya
è Berusaha agar pekerjaan menarik, dapat membangkitkan keinginan-keinginan bekerja sama dengan murid.
è Tegas, sanggup menguasai kelas dan dapat membangkitan rasa hormat pada murid
è Tak ada pilih kasih
è Tidak suka mengomel, mencela dan sarkastis
è Murid benar-benar merasakan bahwa ia mendapatkan sesuatu dari guru
è Mempunyai pribadi yang dapat diambil contoh.

Ketika guru menerapkan ini dalam mengajar murid khususnya dalam mengajar matematiks. Maka guru telah membangun interaksi atau hubungan yang baik dengan muridnya. Ketika guru membangun hubungan tersebut maka terciptalah rasa saling menghormati, saling mendukung dan saling meyakinkan  antara guru dengan siswa.

II. 4 Manfaat Membangun Hubungan yang Baik antara Guru dengan Murid
Metheny, J., dkk, (2008) (Dhita Septika Anandadari, 2013:213-214). menyatakan bahwa “dukungan sosial guru memiliki hubungan dengan beberapa hasil penting, diantaranya pencapaian akademik, motivasi akademik, upaya akademik dan mengejar tujuan lain.” 
Pendapat Metheney sejalan dengan pendapat dari Sarafino, (1994) (Dhita Septika Anandadari, 2013:211) yang menyatakan bahwa,  “Dukungan sosial mengarah pada kenyamanan, perhatian, penghargaan atau  bantuan yang diterima seseorang dari orang lain atau kelompok tertentu.”

Sedangkan Kaplan, A., dkk (2007) (Dhita Septika Anandadari, 2013:214) menyatakan bahwa persepsi atas lingkungan sosial, seperti dukungan dari guru dan teman, adanya rasa saling menghormati dan meningkatnya interaksi yang berhubungan dengan tugas, mempengaruhi keterikatan siswa denganmeningkatkan dua jenis keterlibatan siswa di kelas, yaitu adanya penggunaan self-regulation dan interaksi yang berhubungan dengan tugas itu sendiri. Hal tersebut diartikan bahwa hubungan tersebut ditengahi oleh keyakinan atas motivasi pribadi siswa (ditandai dengan peningkatan kompetensi), keyakinan akan kemampuan mereka untuk berhasil dalam hal matematika (efficacy akademik), dan kepercayaan bahwa mereka bisa memiliki hubungan yang efektif dengan siswa lain di kelas (efficacy sosial).”

Seperti yang telah dituliskan oleh para ahli, kita dapat mengetahui bahwa ketika murid telah mendapatkan dukungan yang baik dari guru akibat terbangunnya hubungan yang baik antara guru dengan murid khususnya dalam belajar matematika.  Murid cenderung tidak merasa takut salah ataupun malu jika tidak tahu atau salah. Sehingga, rasa cemas murid pun berkurang dalam belajar matematika (meningkatnya kepercayaan diri dalam belajar matematika) dan menurunkan resiko mendapat nilai yang rendah dalam belajar matematika. Selain itu, murid memperoleh peningkatan motivasi belajar. Karena murid telah menyukai sifat guru akibat hubungan yang baik antara guru dengan murid yang ingin terus belajar dengan guru tersebut.



BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
            Matematika sebagai mata pelajaran umum yang di pelajari bagi setiap tingkat pendidikan haruslah membuat guru menyadari pentingnya siswa mampu mengerti dan mengurangi resiko kegagalan atau nilai yang buruk. Peningkatan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas tidaklah cukup jika guru itu tidak disenangi atau tidak memiliki hubungan baik antara guru dengan muridnya. Hal ini dapat diwujudkan dengan membangun hubungan yang baik antara guru dengan murid.
Adapun alasan mengapa mengajar matematika perlu membangun hubungan yang baik antara gur dengan murid yaitu pertama sgar guru dapat mengetahui perkembangan belajar muridnya dan mampu mengembangkannya. Sehingga, tercapailah tujuan kegiatan belajar mengajar tersebut.
Kedua, guna untuk menentukan apakah belajar di kelas merupakan suatu kebahagiaan atau penderitaan. Dan ketiga, supaya jangan terjadi gangguan emosional dan tingkah laku pada siswa, karena hubungan antara guru dengan murid buruk.
            Dengan adanya hubungan yangbaik anatara guru dengan murid, Matematika yang diangggap sebagai pelajaran sulit untuk dimengerti mampu memberikan motivasi murid dalam memperlajarinya jika  hubungan yang baik antara guru dan murid tersebut dapat terbangun. Selain itu, dalam akademik pun ia akan meningkat karena rasa percaya diri yang dimiliki oleh murid memberikan rasa nyaman sedangkan rasa cemas yang dirasakan oleh murid akan menurun. Rasa nyaman yang di sebabkan oleh hubungan yang baik antara guru dengan murid ini mampu meningkatkan kualitas hasil belajar matematika murid.
III.3 Saran
            Sebagai guru selain menjadi sososk yang ramah dan digemari oleh murid, juga harus menjadi sosok yang dihormati murid. Untuk itu, sikap tegas juga harus dipperlukan dalam hubungan antara guru dengan murid. Sehingga hubungan yang baik antara guru dengan murid berlandaskan rasa hormat yang hal itu sendiri berasal dari ajaran guru pada saat berinteraksi dengan murid.


DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta : PT. Asdi
Mahasatya

Makmun, Abin Syamsuddin. 2009. Psikologi Kependidikan. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya

Poulou, Maria. 2015. Teacher-student relationships, Social and
Emotional Skill and Emotional Behavioural Difficulties.
University of Patras

Anandari, Dhita Septika. 2013. Hubungan Persepsi Siswa atas
Dukungan Sosial guru dengan Self-Efficacy Perlajaran
Matematika pada Siswa SMAN 14 Surabaya. Universitas
Airlangga Surabya.

 

Minggu, 11 Oktober 2015

Mengapa Satu Indonesia memiliki Banyak Kebudayaan ?

       E.B Tayor, Bapak Antropologi Buadaya, mendefinisikan budaya sebagai, "Keseluruhan kompleks yang leiputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemapuan atau kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh anggota-anggota suatu masyarakat.” Dalam hal ini setiap kelompok budaya menghasilkan jawaban-jawabn khususnya senidiri terhadap tantangan hidup seperti kelahiran, pertumbuhan, hubungan-hubungan sosial dab bahkan kematian.

       Pada dasarnya manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial mereka sebagai suatu adapatasi terhadap lingkungan fisik dan biologis mereka. Kebiasaan-kebiasaan, praktik-prakti dan tradisi-tradisi untuk terus hidup dan berkembanng diwariskan oleh generasi ke generasi lainnya dalam suatu masyarakat tertentu. Pada gilirannya kelompok atau ras tersebut tidak menyadari dari mana asal warisan kebijakan tersebut. Generasi-generasi berikutnya terkondisikan untuk menerima kebenaran-kebenaran tersebut tentang kehidupan di sekitar mereka, termasuk pantangan-pantangan dan nilai-nilai tertentu. Budaya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh setiap fase aktifitas manusia.

      Oleh karena itu budaya memberikan identitas kepada sekelompok oranng, bagaimana kita mengidentifikasi aspek-aspek budaya yang menjadikan sekelompok orang sangat berbeda. Salah satu caranya adalah dengan menelaah kelompok dan aspek-aspeknya sebagai berikut:

  • ·         Komunikasi dan bahasa.
  • ·         Pakaian dan penampilan.
  • ·         Makanan dan kebiasaan makanan.
  • ·         Waktu dan kesadaran waktu.
  • ·         Penghargaan dan pengakuan
  • ·         Kepercayaan dan sikap

Sumber Refrensi :
Ibid.
Aisyah, Siti, dkk. 2014. Bimbingan Konseling. Jakarta: CV. Pustaka Mulia

Rabu, 07 Oktober 2015

Ragam Bahasa Baku

Ragam Bahasa Baku
1.    Ragam Lisan  dan Ragam Tulisan
Bahasa Indonesia yang amat luas wilayah pemakaiannya dan memiliki banyak macam latar belakang penuturannya, membuat bahasa Indonesia melahirkan sejumlah ragam bahasa sesuai dengan fungsi, kedudukan, serta lingkungan yang berbeda-beda yang dapat dibagi menjadi ragam tulisan dan lisan. Perbedaan antara kedua ragam tersebut antara lain :
Ragam Lisan
Ragam Tulisan
Menghendaki adanya orang kedua
Tidak mengharuskan adanya orang kedua
Tidak selalu menyatakan fungsi gramatikal seperti SPOK karena dapat melalui mimik, gerak, dan lain-lain
Unsur fungsi gramatikal harus nyata karena tidak membutuhkan orang kedua
Sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang dan waktu
Tidak terikat dengan kondisi, situasi, ruang dan waktu
Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan pendek panjangnya suara
Dilengkaapi dengan tanda baca, huruf besar dan huruf miring

2.    Ragam Baku dan Ragam Tidak Baku
Pada dasarnya, ragam tulis dan ragam lisan terdiri pula atas ragam baku fan ragam tidak baku.
Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyrakat pemakaiannya sebagaimana bahasa resmi dan kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya.
Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma baku.
Ragam baku memiliki sifat sebagai berikut:
a.)     Mantap
Mantap artinya sesuai dengan kaidah bahasa
b.)    Dinamis
Dinamis artinya tidak statis atau tidak kaku. Bahasa baku tidak menghendaki adanya bentuk mati
c.)     Cendekia
Ragam baku bersifat cendekia karena ragam baku digunakan di tempat-tempat resmi. Pewujud ragam baku ini adalah orang-orang yang terpelajar
d.)    Seragam
Pada hakikatnya, proses pemabakuan bahasa ialah proses penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik keseragaman.

3.    Ragam Baku Tulis dan Ragam Baku Lisan
Ragam Baku Tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnnya. Pemerintah sekarang mendahulukan ragam baku tulis nasional. Usaha tersebut dilakukan dengan menerbitkan, masalah ejaan bahasa Indonesia yang tercantum dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Demikian pula, pengadaan Pedoman Umum Pembentukkan Istilah, pengadaan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan buku lainnya.
Ukuran dan nilai ragam baku lisan ini bergantung pada besar atau kecilnya ragam daerah yang terdengar dalam ucapan. Seseorang dapat dikatakan lisan yang baku kalau dalam pembicaraannya tidak terlalu menonjol pengaruh logat atau dialek daerahnya.


Sumber      :
Arifin, E. Zaenal dan Tasai, S. Amran. 2008. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo



Minggu, 04 Oktober 2015

Apakah yang terkuat dan terindah di dunia ?

Besi itu kuat, tetapi api dapat melelehkannya.
Api itu kuat, tetapi air mampu memadamkannya.
Air itu kuat, tetapi matahari bisa menghilangkannya.
Matahari itu kuat, tetapi awan bisa menghalanginya.
Awan itu kuat, tetapi angin mampu memindahkannya.
Angin itu kuat, tetapi manusia mampu mengontrol dengan layarnya.
Manusia itu kuat, tetapi dosa dan nafsu duniawi dapat melemahkannya.
Dosa itu kuat, tetapi iman bisa mengatasinya.

yang TERKUAT adalah IMAN, Amal kebaikan. Karena, Tak akan hilang setelah kematian

Dan yang paling indah dalam hidup ini

Saat kita pergi ada yang mendoakan
saat kita jauh ada yang merindukan
Saat kita sedih ada yang membuat kita senang
Saat kita bertemu ada senyum yang indah

Tapi yang TERINDAH dari segalanya adalah ketika TUHAN masih berkenan memberikan nafas kehidupan untuk dapat merasakan keindahan dalam hidup ini.

Rabu, 30 September 2015

Kebenaran Melalui Proses Berpikir

Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
                Pada saat ini, pendidikan mulai memperkenalkan kepada siswa bagaimana cara membuat karya tulis yang berdasarkan penelitian. Mahasiswa pun di haruskan membuat sebuah penelitian guna memenuhi tugas dalam mata kuliahnya. Namun, kebanyakan para siswa maupun mahasiswa salah dalam proses pembuatan tugas tersebut. Seperti, salah sumber, salah penalaran ataupun salah dalam mengambil suatu kesimpulan. Kesalahan tersebut disebabkan kurangnya atau minimnya pengetahuan siswa atau mahasiswa dalam materi penelitian serta kurangnya sikap kritis dalam prosesnya. Kesalahan tersebut adalah kesalahan dasar atau awal dalam penelitian.
                Banyaknya kesalahan yang dibuat masyarakat dalam pendidikan ini baik siswa ataupun mahasiswa pada pembuatan penelitian inilah yang menjadi latar belakang kami untuk membuat makalah yang berjudul “Kebenaran melalui proses berpikir atau bernalar sebagai dasar penelitian”.
B. Rumusan Masalah
       1.            Apakah yang dimaksud dengan penalaran?
       2.            Apakah yang dimaksud penelitian?
       3.            Apakah kriteria kebenaran dalam penelitian?
       4.            Apakah jenis penalaran dalam pembuatan penelitian?
C. Tujuan
       1.            Siswa atau Mahasiswa dapat mengetahui arti dari penalaran
       2.            Siswa atau Mahasiswa dapat mengetahui arti dari penelitian
       3.            Siswa atau Mahasiswa dapat mengetahui jenis dari penalaran dalam pembuatan penelitian
       4.            Siswa atau Mahasiswa dapat mengetahui  kriteria kebenaran dalam penelitian
       5.            Siswa atau Mahasiswa dapat menerapkannya dalam pembuatan makalah penelitian











BAB II
Isi dan Pembahasan
    1.            Penelitian
                      A.            Pengertian
Penelitian adalah suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematis yang bertujuan untuk menemukan, mengiterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta.
                       B.            Tujuan Penelitian
Menemukan, mengembangkan, menguji kebenaran suatu pengetahuan berdasarkan data dan fakta.
                       C.            Jenis Penelitian
1)      Penelitian Ilmu Pasti Alam ( Natural Science Research) : Geografi, fisika, pertanian, kimia, dll.
2)      Penelitian Ilmu Sosial ( Social Science Research) : Ilmu Ekonomi, sejarah, hukum, filsafat, dll.
3)      Penelitian ilmun Kebudayaan ( Humanities Research ) : Bahasa, Sastra, Komunikasi, dll.

    2.            Penalaran
                            a.            Pengertian
Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang adasehingga sampai pada suatu simpulan. Data atau fakta yang akan dinalar boleh benar atau tidak benar. Disinilah letaknya kerja penalaran. Orang akan menerima data atau fakta yang benar dan tentu saja menolaknya jika belum jelas kebenarannya. Data yang dapat dipergunakan dalam penalaran untuk mencapai satu simpulan ini harus berupa kalimat pernyataan. Kalimat pernyataan yang digunakan sebagai data disebut proposisi.

                            b.            Jenis-Jenis Nalar
                                                    a.            Penalaran deduktif
Penalaran deduktif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang umum, kemudian diteliti dan hasilnya dapat memecahkan persoalan khusus. Penarikan simpulan secara deduktif dapat dilakukan dengan secara langsung dan tak langsung.
Ø  Secara langsung adalah simpulan yang ditarik dari 1 premis
Contoh :
·         Semua S adalah P (premis), Sebagian P adalah S (simpuian)
·         Semua S adalah P (premis). Tidak satu pun S adalah tak-P
Ø  Secara tak langsung adalah simpulan deduktif yang ditarik dari 2 premis
Contoh : semua manusia bijaksana
                  Semua polisi adalah manusia
Kesimpulan : jadi, semua polisi bijaksana
             Syarat- syarat yang diperlukan bagi seorang peneliti agar mendapat dasar-dasar deduksi yang benar dan tepat memerlukan ketekunan, ketelitian dan kecermatan dalam mengumpulkan fakta-fakta, cerdas, tajam, dan objektif dalam menganalisis, mengintrepetasi dan menarik kesimpulan.

                                                    b.            Penalaran Induktif
Penalaran Induktif adalah penalaran yang bertolak dari pernyataan – pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Dengan kata lain, simpulan yang diperoleh tidak lebih daripada pernyataan (premis).
Bentuk penalaran induktif adalah sebagai berikut               :
Ø  Generalisasi
Generalilsasi adalah poses pernalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum.
Contoh   :
Jika dipanaskan, besi memuai
Jika dipanaskan, tembaga memuai
Jika dipanaskan, emas memuai
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.
Ø  Analogi
Analogi adalah cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh   :
Nita adalah lulusan akademi A
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan  baik
Ali adalah lulusan akademi A
Oleh sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
                                                     c.            Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.
Ø  Sebab – Akibat
Contoh : Tombol bel ditekan maka bel berbunyi
Ø  Akibat – Sebab
Contoh : Edwar jatuh dari pohon karena pohon licin
         
          Dalam cara deduktif pertama kali digunakan oleh Aristoteles yang kemudian diikuti oleh para ahli yang akhirnya mengembangkan proses silogisme. Sedangkan, cara bernalar induktif ini pertama kali muncul pada tahun 1561-1626 dikemukakan oleh Francis Bacon




    3.            Kriteria Kebenaran Ilmu dalam Penelitian
Dalam criteria kebenaran ilmu terdapat 3 jenis kebenaran:
i)        kebenaran koherensi
        kebenaran koherensi adalah apabila pernyataan di anggap benar, jika pernyataan itu bersifat koherensi dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya dan dianggap benar dengan nalar deduktif.
Contoh         : Semua mahasiswa Untirta membayar UKT
                          Adi mahasiswa Untirta
                          Maka, Adi juga membayar UKT
ii)       kebenaran korespodensi
        kebenaran korespodensi ialah apabila pernyataan adalah benar, jika pengetahuan yang terkandung berkorespodensi atau berhubungan dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut menurut logika induktif dan menggunakan statistika sarananya.
Contoh : jika Ali mengatakan Untirta di Serang. Maka, Ali benar karena memang Untirta sebagai objeknya berada di Serang
iii)     kebenaran pragmatis
        Kebenaran pragmatis ialah apabila suatu pernyataan dianggap benar bila diukur dengan criteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional bagi kehidupan praktis. Contoh : Jika Ali bekerja lembur karena Ali ingin mendapatkan uang tambahan. Berarti tidak mungkin Ali bekerja lembur jika tidak ada tambahan yang diperolehnya. ( kecuali keadaan terpaksa, maka kebenaran ini salah).